Provinsi Jawa Dwipa Dalam Lensa
Letter G dan Letter R Bersatulah

Group's posts with tag: film

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag film
ReviewReviewReviewReviewReviewFilm Ayat-Ayat Cinta (AAC) Mar 28, '08 11:34 PM
by Prabu for everyone
Category:Movies
Genre: Romance
Link: http://www.tribun-timur.com/view.php?id=70483

Film Ayat-Ayat Cinta (AAC) tidak saja menjadi fenomenal di Indonesia.
Di Malaysia, jauh lebih heboh lagi. Dalam tiga hari pemutaran, sebanyak 1,5 juta penonton diklaim mendatangi bioskop-bioskop di sana untuk menyaksikan film ini.

Bila jumlah ini benar, dipastikan AAC di Malaysia jauh lebih fenomenal ketimbang di Indonesia.

Bandingkan di Indonesia. Dua minggu diputar, sejak tayang perdana, 28 Februari silam, AAC "baru" ditonton dua juta penonton.

Pada Senin (24/3) lalu, film ini mulai tayang serentak di sejumlah negara Asia Tenggara seperti Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Thailand.
Antusiasme penonton Negeri Jiran yang luar biasa ini membuat AAC akan menjadi film pertama Indonesia yang menaklukkan bioskop-bioskop di Asia Tenggara, khususnya di negara yang memiliki komunitas Muslim atau Melayu.
Banyak warga dari luar negeri yang menyukainya. Contohnya, di bioskop Batam yang berbatasan dengan Singapura.

Di sana, ratusan warga Singapura rela antre buat nonton film AAC. Bahkan ada puluhan warga Singapura yang --karena kehabisan tiket-- besoknya rela menginap di hotel-hotel di Batam, sekadar agar tak lagi kehabisan tiket.
Lain lagi dengan warga Malaysia, yang memilih berdatangan ke Jakarta
untuk nonton.

Beberapa dari mereka ada yang menginap di Indonesia. Sejumlah warga Malaysia ada yang sempat protes dan marah besar, karena Fedi Nuril dipilih menjadi pemeran Fahri.

Pasalnya Fedi dituding pernah berciuman dengan lawan mainnya, di film terdahulunya, sebelum bermain di AAC.

Warga Malaysia dikabarkan belum bisa menerima hal itu.
Dalam perkembangan lain, banyak kalangan perfilman luar negeri seperti dari Singapura, Malaysia, Inggris, Belanda, Kanada, Jerman, India, Thailand, Brunei, Taiwan, Hongkong, Jepang, dan Korea yang datang ke Indonesia.

Mereka ingin membeli hak siar AAC di negara mereka. Ini yang membuat pihak MD Entertainment, produser AAC, sampai kewalahan.

Untuk di Indonesia saja, MD Entertainment sudah nekad habis-habisan
membikin pita film sebanyak 100 kopi.

Padahal untuk film lain, MD rata-rata hanya membuat 24 kopi.
Bahkan untuk film terlaris sebelum munculnya AAC, Ada Apa dengan Cinta (2001) hanya dibuatkan 28 kopi.

Maka, ini menjadi sejadi sejarah baru buat perfilman Indonesia.
Selain membeli hak siar film, para utusan dari Asia, Inggris, Belanda, Kanada, dan Jerman, juga membeli hak versi terjemahan atas novel AAC, untuk dialihbahasakan ke dalam bahasa mereka.

Saat ini, novel karya Habiburrahman El-Shirazy atau Kang Abik, sudah dialihbahasakan ke bahasa Malaysia.

Sang pengarang ini dikabarkan pula mendapatkan royalti sebanyak Rp 1,9 miliar, angka royalti untuk karya apapun sepanjang sejarah di Indonesia.
Tapi dia tetap hidup sederhana dan tidak membeli mobil baru. Malah
uangnya dipakai buat membangun pesantren.

Versi Panjang

Dikabarkan pula, pihak MD Entertainment meraup untung sebesar Rp 24 miliar hingga minggu keempat pemutaran.

Proses produksi film AAC menelan dana sekitar Rp 8 miliar.
Karena animo penonton yang begitu tinggi, Bos MD Entertainment Manooj Punjabi dikabarkan akan membikin AAC versi extended (yang
diperpanjang).

Dikabarkan, versi panjangnya ini akan disamakan dengan isi novel dan lebih mendalam.


Kelemahan AAC

Sukses dari sisi komersial, AAC sebenarnya bukan film sempurna dan memiliki banyak kelemahan.

Protes misalnya datang dari sejumlah tokoh Islam yang menganggap penggambaran Hanung Bramantyo tidak akurat.

Karena mengedepankan sisi komersial --keterikatan pada tema cinta meski dibungkus "ala" Islam--, film tidak bisa dianggap film dakwah.

Padahal, ke mana-mana Hanung memproklamirkan filmnya adalah film dakwah. Juga penontonnya kebanyakan dari kalangan majelis taklim.

Alur cerita AAC mengisahkan perjuangan seorang mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh ilmu di Mesir.

Di saat itu, Fahri (diperankan Fedi Nuril) meski menghadapi pergulatan hebat dengan cinta empat perempuan.

Cerita baru mulai bergerak menuju konflik dan menjadi seru saat Fahri menikahi Aisha (Rianti Catwright).

Pilihan Fahri menimbulkan kecemburuan di hati tiga perempuan lain yang menyukainya, Maria (Carissa Putri), Noura (Zaskia Adya Mecca) dan Nurul (Melanie Putri).

Bahkan Noura tega memfitnah Fahri saking kecewanya pada sang pujaan hati.
Kritikus film Eric Sasono menyebut AAC lebih tepat disebut film romance karena pusaran kisahnya adalah Fahri dan perempuan- perempuan yang mencintainya.

Yang lebih ekstrem, AAC dianggap telah membuat pendangkalan arti Islam.
Kata kritikus, AAC mengidentikkan Islam dengan pakaian panjang menutup aurat (baju yang dipakai Aisha), jenggot panjang, atau pemakaian frasa-frasa dan bahasa Arab seperti afwan (maaf), antum (Anda), akhwat (wanita), akhi (mas atau saudara).

Islam juga diidentikkan dengan Arab/Timur Tengah sehingga terjadi kerancuan dalam mengidentifikasi dan membedakan antara budaya Islam dan budaya Arab/Timur Tengah.

Akibatnya, cerita cinta bernuansa Arab/Timur Tengah dibilang cerita Islami walaupun ceritanya tidak ada unsur Islamnya sama sekali.
Lebih celaka lagi, ada yang mengindentikkan AAC sebagai film Islam karena ber-setting Mesir.

Akhirnya, masih kata kritikus, kategori paling tepat untuk AAC adalah film romantis, sama seperti Titanic (kisah cinta sangat romantis di balik tenggelamnya Titanic) dan Kuch-kuch Hota Hai (yang ini memang film sangat romantis ala India yang menguras air mata).

Alhasil, AAC dituding hanya "mengambil" Islam sebagai pemikat bagi penonton dari kalangan Muslim dan ini berhasil.

Namun, apapun kata kritikus, AAC telah memecahkan beberapa rekor dan film ini jelas jauh lebih bermanfaat dan bertenaga ketimbang film- film yang melulu menjual horor dan cinta. Juga sinetron-sinetron di TV yang tak jelas.


Propinsi Jawa Dwipa
Join this Group!RSS FeedHelp on RSS FeedsAdd to My Yahoo
Report Abuse
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help